
Ada berapa agama sih di Indonesia
yang sudah diakui resmi oleh pemerintah? Apa cuma 6 agama saja yang
terdiri dari Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Konghucu? Hmm, tahukah
kamu bahwa Indonesia sejak masih dikenal dengan nama nusantara ternyata
memiliki banyak kepercayaan/aliran yang dipercaya sebagai ajaran agama sejak
jaman nenek moyang kita.
Dan sampai saat ini pun
kepercayaan-kepercayaan peninggalan leluhur itu masih dipercaya oleh sebagian
kecil masyarakat di berbagai daerah.
Setidaknya ada 8 agama asli di Indonesia yang tidak pernah diakui karena
beberapa sebab dan alasan tertentu.
Kedelapan agama tersebut
dipertimbangkan untuk tidak diakui karena alasan bahwa agama-agama tersebut
hanya berbentuk seperti kepercayaan masa lalu, ajaran leluhur maupun
kepercayaan nenek moyang sejenis dengan animisme dan dinamisme.
Jadi akhirnya pemerintah memutuskan
untuk menetapkan 6 agama pokok yang ada dan diakui resmi di tanah air kita Indonesia
yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan yang terakhir diakui resmi
adalah Konghucu, kepercayaan tradisional Tionghoa sejak memasuki kepemimpinan
presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui UU No 1/Pn.Ps/1965.
Apa saja sih agama-agama yang
menjadi kepercayaan masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu namun tak pernah
mendapatkan pengakuan legal/resmi oleh pemerintah sampai sekarang. Lebih
jelasnya, simak berikut ini:
1. Sunda Wiwitan
Agama asli tradisional Indonesia
pertama adalah Sunda Wiwitan. Seperti namanya, ajaran warisan leluhur ini
banyak dipercaya oleh masyarakat tanah sunda atau daerah sekitar Cirebon,
Banten, Kuningan, Cigugur, Kanekes, Kampung Naga dan Baduy pedalaman.
Kepercayaan Sunda Wiwitan ini memuja roh nenek moyang namun tetap menyembah
Tuhan yang tunggal yang dipuja dengan sebutan Sang Hyang Kersa dalam ajaran
agama Sunda Wiwitan ini.
Sepenalaran penulis sih nenek moyang
yang dipuja itu seperti Nabi atau sosok manusia suci yang dimuliakan sedangkan
kepercayaan terhadap Sang Hyang Kersa sama halnya dengan ajaran umat muslim
atau Kristen dimana menyembah hanya satu Tuhan saja.
Agama atau kepercayaan ini
lama-kelamaan tradisinya sudah mulai dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha
seiring perkembangan zaman.
2. Kejawen
Nah, yang kedua adalah Kejawen atau
orang-orang bilang Islam Abangan. Mendengar namanya pasti kebanyakan dari
kalian sudah familiar banget yah dengan nama Kejawen ini, karena identik dengan
kepercayaan-kepercayaan religi orang-orang Jawa Asli maka Kejawen masih sangat
populer bagi penduduk di pulau Jawa.
Namun sebagian besar Masyarakat Jawa
sendiri terkadang mengklaim bahwa ini bukanlah agama akan tetapi hanya warisan
leluhur untuk menpertahankan tradisi layaknya rukun-rukun dalam agama Islam.
Pada intinya kepercayaan Kejawen
mewajibkan penganutnya untuk berperilaku dan hidup sebagai pribumi Jawa yang
wajib menaati perintah – Nya dan menjauhi laragan- Nya dengan selalu berbuat
baik di dunia dan menghormati roh-roh leluhur.
Selain itu kepercayaan Kejawen ini memiliki
empat hal yang wajib dilakukan dan ditanamkan dalam hati penganutnya, yakni
selama hidup manusia harus menjadi rahmat bagi diri sendiri (Mamayu Hayuning
Pribadhi), menjadi rahmat bagi keluarga (Mamayu Hayuning Kaluwarga), menjadikan
manusia sebagai rahmat bagi sesama manusia (Mamayu Hayuning Sasama) dan yang
terakhir menjadi rahmat bagi alam semesta (Mamayu Hayuning Bhuwana).
Meski ajaran agama Kejawen ini
identik dengan agama Islam, namun tradisi mereka juga banyak dipengaruhi dari
Agama Hindu, Buddha dan Ilmu Kebatinan.
3. Buhun
Lanjut ke “agama asli Indonesia” ketiga cuy, yaitu
kepercayaan Buhun. Lagi-lagi kepercayaan orang sunda nih. Buhun juga disebut
sebagai Jati Sunda dimana ajaran ini murni diajarkan atau diturunkan dari
generasi ke generasi penerusnya di tanah sunda tanpa pengaruh atau campuran
dari perkembangan dan persebaran agama yang kita kenal sekarang ini.
Penganutnya pada zaman sekarang
masih ada loh walaupun memang nggak banyak-banyak amat. Kebanyakan dari
penganut Buhun ini ada di daerah Bekasi dan sekitar wilayah Jawa Barat.
4. Marapu
Agama nusantara keempat ada Marapu
nih, pernah dengar nama ini sebelumnya? Marapu ini adalah agama asli pulau
Sumba, NTT yang katanya sudah eksis lebih dari ratusan tahun yang lalu loh!
Penganut agama Marapu ini memuja roh nenek moyang yang telah meninggal dunia
dan mendiami di alam berbeda.
Penganut ajaran agama Marapu ini
meyakini bahwa setelah seseorang meninggal maka roh orang tersebut akan
memasuki dunia baru yang disebut dengan Prai Marapu yang kemungkinan sama
maksudnya dengan deskripsi Surga dalam ajaran Islam ataupun Kristiani.
Agama
tradisional peninggalan leluhur Marapu ini sangat menjunjung tinggi sirkulasi
kehidupan pada manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
Segala momen penting seperti
kelahiran, kematian, pernikahan, bercocok tanam dan lain-lain pasti ada upacara
atau ritual khusus untuk memperingatinya. Mereka juga sangat percaya tentang
hal-hal gaib, makhluk halus, kekuatan supranatural dan benda-benda keramat atau
bertuah dalam prosesi ritual yang mereka jalankan dalam kepercayaan agama
Marapu di Pulau Sumba ini.
5. Ugamo Malim
Masih ada 4 agama lagi nih cuy.
Agama yang belum diakui resmi oleh pemerintah Indonesia selanjutnya adalah
Ugamo Malim. Nama apaan lagi sih itu? Sejenis kolang kaling kah? Ugamo Malim
adalah agama dan kepercayaan kuno di daerah Sumatera Utara yang sudah ada
bahkan sebelum penyebaran agama besar seperti Islam, Kristen, dan Hindu Budha
menyebar di Indonesia.
Kamu pasti tahu Danau Toba dong?
Yups, Ugamo Malim adalah kepercayaan yang berasal dari suku Batak di kawasan
Toba. Ajaran ini memiliki kesamaan dengan agama Yahudi kuno pada masa lalu.
Sejauh ini penganut kepercayaan Ugamo Malim dipeluk oleh kurang lebih 35
generasi suku Batak sekitar 11 ribu penduduk, dan sudah eksis sekitar 800 tahun
yang lalu hingga saat ini. Wah waktu yang lumayan lama ya.
Lalu Tuhan dalam agama ini
bagaimana? Ugamo Malim menyebut Tuhan dengan julukan Debata Mula Jadi Na Bolon
yaitu Tuhan dipercaya menciptakan manusia dan segala isi bumi beserta isinya.
Debata Mula Jadi Na Bolon juga menciptakan tiga tingkat dunia yaitu Banua
Ginjang, Banua Tonga dan Banua Toru.
Ini dilakukan dengan istrinya Manuk
Patiaraja yang kemudian hasil perkawinan mereka melahirkan tiga buah telur. Dari tiga telur itu kemudian menetas Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan.
Dan eksistensi ketiga dewa inilah mulai menciptakan tiga tingkat dunia di alam
semesta.
6. Hindu Kaharingan
Agama peninggalan leluhur yang ke
enam adalah Kaharingan. Sejarah Kaharingan ini dulunya merupakan kepercayaan
besar yang dianut hampir seluruh masyarakat kuno suku Dayak di Kalimantan, jauh
sebelum agama-agama besar yang diakui sekarang ini tersebar.
Tuhan Yang Maha
Esa dalam kepercayaan agama Kaharingan disebut dengan Ranying dan tempat
ibadahnya bernama Balai Basarah.
Seiring perkembangan zaman
pemerintah Indonesia memasukkan ajaran Kaharingan sebagai bagian dari agama
Hindu karena banyaknya kemiripan tradisi dan ritual didalam dua agama asli
Indonesia ini sehingga sekarang lebih dikenal dengan nama Hindu Kaharingan.
Meskipun begitu Kaharingan tetap memiliki banyak bagian khas yang tidak bisa
hilang dan melekat di hati para penganutnya hingga saat ini di Kalimantan.
7. Towani Tolotang
Selanjutnya yang ketujuh ada Towani
Tolotang yang juga berasal dari Kabupaten Sinderen Rappang (Sidrap) di Sulawesi
Selatan. Ajaran ini juga lama-lama sudah mampu beradaptasi dengan ajaran agama
Hindu karena kepercayaan mereka tidak pernah diakui oleh Pemerintah, dan hanya
agama Hindu saja yang mendekati dengan ajaran leluhur mereka.
Sekarang ini diketahui penganut
Tolotang hanya tinggal sekitar 5100 orang saja yang tersebar di daerah sekitar
Sulawesi Selatan, ini pun sangat dikhawatirkan kalau Agama Towani Tolotang
sudah mendekati kepunahan karena masyarakat mereka pernah mengalami pembantaian
saat terjadinya pemberontakan DI/TII Qahar Muzakkar.
Sebagian besar dari mereka yang
berhasil menyelamatkan diri pindah ke Agama Islam namun seiring perkembangan
zaman, generasi penerus mereka mulai beradaptasi dengan Agama Hindu untuk
melestarikan Tolotang, agama peninggalan leluhur mereka.
8. Madrais, Djawa Sunda
Agama Asli Indonesia yang belum
diakui oleh pemerintah terakhir adalah Madrais atau sering disebut juga dengan
Djawa Sunda dan tradisi nenek moyang Cara Karuhun Urang.
Dalam ajaran Agama
Djawa Sunda ini mirip sekali dengan kepercayaan tradisional Buhun namun dengan
tambahan tradisi Jawa Kuno dan tempat penganut mereka masih sama di sekitar
wilayah Cigugur, Kuningan Jawa Barat.
Mereka masih suka melakukan ritual
atau upacara syukuran kepada Dewi Sri (Sanghyang Sri), dewa-dewa penguasa bumi
dan sejenisnya.
Anehnya mereka juga memuliakan hari Maulid Nabi Muhammad. Hari
raya besar mereka adalah Seren Taun yang diperingati setiap tanggal 22 Rayagung
menurut kalender Sunda. Dalam perayaan hari Seren Taun ini sangat berlangsung
meriah dan diperingati secara besar-besaran.
Pada masa orde baru banyak penganut
Madrais yang ‘terpaksa’ masuk agama besar seperti Islam dan Kristen akibat
pemerintah orde baru Soeharto melarang keras ajaran agama mereka. Baru kemudian
setelah memasuki jaman Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur) mereka diperbolehkan
untuk melanjutkan tradisi keagamaan mereka.
Bagi Gusdur kepercayaan ataupun
agama tetaplah akan menjadi kepercayaan yang merupakan hak asasi setiap
individu manusia dan kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang
lain.
Ngomong-ngomong soal Almarhum Gusdur saya jadi kangen dengan sosok beliau yang
sangat toleransi dengan keyakinan orang lain, satu perkataan beliau yang sangat
membekas di hati saya sampai sekarang adalah, ‘Tidak penting apa pun agama atau
sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang
tidak pernah tanya apa agamamu, keren bener yah presiden kita ini.
Sumber: kejadiananeh.com
0 Response to "8 Agama Asli Indonesia Yang Tidak Pernah Diakui"
Post a Comment